Batik Warisan Nusantara

Batik Lasem, Khazanah Nusantara yang Terserak

akurat logo
Rizal Mahmuddhin
Rabu, 29 November 2017 13:21 WIB
Share
 
Batik Lasem, Khazanah Nusantara yang Terserak
Batik Lasem asal Kabupaten Rembang milik Parlan dalam Pameran Wasiat Agung Negeri Nusantara (Warisan) yang digelar igelar sejak tanggal 23 hingga 26 November lalu.. AKURAT.CO/Rizal Mahmuddhin

AKURAT.CO, Sejak batik diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2009, kerajinan batik nusantara seakan menemukan momentum untuk kembali menggeliat dari kelesuannya.

Perihal itulah yang kemudian menggerakkan instansi, lembaga atau pemangku kepentingan terkait batik untuk berinisiatif menghelat berbagai kegiatan dan pameran dalam rangka menggenjot produktivitas kekayaan khazanah nusantara yang satu itu.

Pameran Wasiat Agung Negeri Nusantara (Warisan) salah satunya. Digelar sejak tanggal 23 hingga 26 November lalu. Pameran Warisan 2017 menampilkan ragam kerajinan adiluhung batik dari berbagai daerah.

Tak mau ketinggalan untuk ikut menjadi bagian dari urat penghubung kelestarian seni dan budaya bangsa, mendorong seorang Parlan untuk bisa meramaikan ajang tahunan yang sudah dihelat untuk kali kedua itu dengan membawa serta kerajinan batik tinggi mutu dari daerahnya, batik Lasem.

Menengok historinya, perkembangan batik Lasem bermula sejak era Na Li Ni, atau biasa dikenal sebagai Si Putri Campa istri Bi Nang Un, seorang anggota ekspedisi Cheng He yang memperkenalkan teknik membatik sekitar abad ke-15. Kontak budaya Tionghoa itulah yang kemudian meninggalkan pengaruh pada hasil karya batik Lasem dikemudian hari.

Kendati saat ini telah banyak mengalami inovasi demi memenuhi permintaan pasar, batik klasik Lasem menyimpan kekhasannya pada warna merah yang kuat dan dominan. Sering juga disebut "getih pitik" atau darah ayam.

Bukan harfiah darah ayam dalam arti sebenarnya, merah batik Lasem berasal dari bubuk pewarna yang pada zaman Hindia Belanda rata-rata di impor dari Jerman atau Eropa. Bubuk itu dicampur dengan air Lasem sehingga melahirkan warna merah batik seperti sekarang ini. Warna klasik batik Lasem.

"Motif yang dibawa banyak mas. Ada Sekar Jagat, Kericaan, Teluk Ringgit, banyak mas... Jagoannya Tiga Negeri. Batik Lasem itu, kan, asalnya dari merahnya Lasem, birunya Pekalongan, coklatnya solo," ujar Parlan saat ditemui tim AKURAT.CO.

Mengurai makna dibalik motif batik Lasem tampaknya bukan perkara mudah. Pasalnya, motif batik yang umum diturunkan dari generasi ke generasi itu terkadang tanpa mengetahui makna simboliknya.

Para perajin dan pengusaha batik daerah tersebut juga terbiasa menyimpan khasanah motif dengan cara mengingat, ihwal tersebut yang membuat kekayaan khazanah motif batik Lasem boleh dikata tak terdokumentasi dengan cukup baik.

Mulai fokus berkecimpung pada kerajinan batik sejak 7 tahun lalu, Parlan yang merupakan pensiunan guru mencoba mengumpulkan keping-keping puzzle batik kebanggaan dari daerahnya itu.

Baginya, berbisnis batik adalah alasan kesekian, sebab tujuan utama dari apa yang dilakukannya saat ini adalah sebagai upaya dia untuk bisa melestarikan warisan budaya nenek moyang.

Terlepas dari itu semua, batik tulis Lasem, Kabupaten Rembang merupakan salah satu batik yang memiliki tingkat kerumitan cukup tinggi. Tak pelak jikalau harga batik tulis Lasem bisa mencapai jutaan rupiah, dan kerap diburu para kolektor serta masyarakat kelas menengah ke atas.

"Kisaran harga mulai Rp150.000 per item. Sampai ada yang Rp30 juta per item. Itu terpengaruh proses. Pembuatannya makin panjang, catnya makin halus dan kainnya makin bagus, ya makin mahal, mas," imbuhnya.

Dalam memasarkan batiknya, bapak berusia 65 tahun itu sudah mengandalkan sistem penjualan daring melalui beberapa media sosial. Kendati masih menyasar pasar lokal, namun beberapa kali usahanya itu ketiban pulung lantaran sempat mendapat pesanan dari beberapa pengusaha negeri seberang.

"Saya belum pernah keluar negeri. Tapi orang luar yang datang ke saya. Pernah ada orang Malaysia, Singapura, Nigeria, Amerika," rincinya.

Terkait tantangan, Parlan menuturkan, semakin ketatnya persaingan dewasa ini membuat penjualan produk batiknya mengalami penurunan omzet yang cukup signifikan. Selain itu, siklus musim juga memiliki pengaruh pada produktivitas jumlah batik yang dibuat.

Diungkapkannya, para perajin batik Lasem tidak sepenuhnya benar-benar fokus pada kerajinan batik, sebagian besar dari mereka juga berprofesi sebagai petani. Dan bila waktunya musim penghujan tiba, mereka akan lebih memilih pergi ke sawah untuk bertani, dengan alasan, hasil tani lebih menguntungkan dari pada hasil membatik.

Apa boleh bikin, di tengah kegairahan meningkatnya kegemilangan batik tulis Lasem, rupanya masalah dokumentasi dan kesejahteraan pembatik masih menjadi pekerjaan rumah yang mesti mendapat perhatian. Tidak hanya oleh pemerintah tapi juga oleh semua pihak yang sadar dan merasa bahwa batik adalah khazanah nusantara yang mesti dijaga bersama-sama.

"Harapannya gini mas, saya pingin batik Lasem ngga berhenti. Tapi terus meningkat. Jangan cuma di negeri sendiri, tapi juga bisa ke manca negara. Itu pertama, batik Lasem bisa terus dilestarikan. Yang kedua, harus berkembang, berinovasi tapi jangan sampai meninggalkan corak-corak Lasemnya," tutup Parlan kemudian. []


Editor. Juaz

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

4 Pasang Kontestan Pilkada Kota Bogor Lolos Uji Kesehatan

Rabu, 17 Januari 2018 11:45 WIB

Semua para calon dinyatakan mampu secara jasmani dan rohani serta bebas dari penyalahgunaan narkotika dan psikotropika.



Soal Video Mesum Mirip Marion Jola, Ini Komentar Maia Estianty

Rabu, 17 Januari 2018 11:44 WIB

Maia Estianty mengaku sudah mengetahui isu video mesum mirip kontestan Indonesian Idol bernama Marion Jola


Ronaldinho Ingin Akhiri Karier dengan Tur Keliling Dunia

Rabu, 17 Januari 2018 11:43 WIB

Ronaldo salah satu ikon sepakbola dunia


Kebijakannya Dikritik DPRD, Sandiaga Pilih Dengarkan Saran Menteri Rini

Rabu, 17 Januari 2018 11:42 WIB

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno menyebut bahwa pagar itu dicabut karena terlihat tidak bagus.


Nekat Jambret di Tempat Umum, Pria Ini Diamankan Polisi

Rabu, 17 Januari 2018 11:41 WIB

Polisi sigap mendengar teriakan dua siswa yang akan dijambret.


Sandiaga Ngaku Bakal Tunaikan Semua Kontrak Politiknya

Rabu, 17 Januari 2018 11:32 WIB

Keberadaan becak adalah kontrak politik gubernur sebelumnya.


Pelaku Pelecehan Seksual di Depok Mengaku Stres

Rabu, 17 Januari 2018 11:25 WIB

Amanda mengaku trauma untuk keluar rumah.


Selama Dini Hari Tadi, 19 Kali Guguran Warnai Gunung Sinabung

Rabu, 17 Januari 2018 11:25 WIB

Sementara itu, aktifitas kegempaan juga masih terus berlangsung. Tercatat gempa terjadi sebanyak 37 kali sepanjang subuh.


Tiga Hari Hilang, Saat Ditemukan Purnawiraman TNI Ini Luka di Kepala

Rabu, 17 Januari 2018 11:20 WIB

Ia ditemukan Polisi di kawasan Jalur Bus TransJakarta di Tanjung Priok.


Soal Perceraiannya, Ahok Hingga Kini Belum Dapat Panggilan dari PN Jakut

Rabu, 17 Januari 2018 11:11 WIB

Josefina tetap menunggu surat pemanggilan tersebut. Bahkan hal ini sudah dilaporkan ke kliennya pada Jumat (12/1) lalu.


Kaesang Pangarep Buktikan Kakaknya Mirip Personel Meteor Garden

Rabu, 17 Januari 2018 11:10 WIB

Kaesang Pangarep posting foto Gibran Rakabuming Raka yang buat warganet ngakak.


Anggaran FORMI Surabaya 2018 Capai Rp1,1 Miliar

Rabu, 17 Januari 2018 11:08 WIB

Anggaran FORMI yang dianggarkan dari APBD Kota Surabaya untuk kegiatan selama 2018 mencapai Rp1,1 miliar.


Dominasi Laga, Persija Justru Terima Kekecewaan dari Tim Malaysia

Rabu, 17 Januari 2018 11:04 WIB

Gol ke gawang Persija justru dicetak oleh sang mantan


Yeay... Bulan April, Bus Wisata akan Hadir di Kota Banjarbaru

Rabu, 17 Januari 2018 11:02 WIB

Peluncuran dua unit bus wisata itu direncanakan bertepatan peringatan hari jadi Kota Banjarbaru tanggal 20 April 2018.