Batik Warisan Nusantara

Batik Sragen Punya Khas Motif Flora dan Fauna

akurat logo
Rizal Mahmuddhin
Selasa, 28 November 2017 09:18 WIB
Share
 
Batik Sragen Punya Khas Motif Flora dan Fauna
Meydi Iswanto, Perajin batik yang turut meramaikan Pameran Wasiat Agung Negeri Nusantara (Warisan) yang digelar di Jakarta Convention Center selama 23-26 November 2017.. AKURAT.CO/Rizal Mahmuddhin

AKURAT.CO, Pameran Wasiat Agung Negeri Nusantara (Warisan) kembali digelar. Tak hanya bertujuan untuk menjaga seni dan budaya bangsa, namun perhelatan yang sudah diselenggaraankan untuk kali kedua ini sebagai bentuk apresiasi kepada para pembatik, pemerhati, dan pengusaha batik Indonesia.

Turut serta meramaikan Pameran Warisan yang dihelat di Jakarta Convention Center selama 23-26 November 2017, Meydi Iswanto, sengaja bertandang ke ajang tahunan itu untuk memperkenalkan lebih dekat produk kerajinan batik asal daerahnya, Sragen.

Bicara soal batik Sragen, tentu tak terlepas dari Keraton Surakarta Solo sebagai pelopor pembuatan batik. Pasalnya, kendati sudah berusia satu abad, batik asal Sragen boleh dikata nyaris tak pernah terdengar gaungnya karena selalu kalah pamor dari batik Solo atau Yogyakarta.

Meydi menuturkan, kekuatan batik Sragen terdapat pada kekayaan ornamen flora dan fauna. Tak jarang dikombinasi dengan motif baku seperti parang, sidoluhur, dan lain sebagainya. Adapun teknik yang kerap ia gunakan adalah teknik ukel sebagai andalan.

"Saya biasa dengan motif ukel ini karena mencirikan khas nenek moyang," ujarnya kala ditemui AKURAT.CO.

Teknik ukel merupakan bagian proses membatik dengan mencantingkan malam berbentuk setengah lingkaran. Bak cacing setengah melingkar dengan dasar memberikan tembokan. Hal itu dilakukan secara berulang-ulang guna melahirkan warna yang jelas dan merata.

Dapat dikatakan, dibanding teknik granit dan buh, teknik ukel termasuk kedalam kategori tersulit sehingga lumrah jika batik yang dihasilkannya nanti bakal dibanderol dengan harga jutaan rupiah.

"Kisaran harga ada yang dari 3 juta sampai 10 juta mas," imbuhnya.

Adapun durasi pengerjaan, dalam menghasilkan selembar kain batik berukuran kurang lebih 2,5 kali 3 meter, dirinya membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya.

"Targantung motifnya juga ya, yang paling detail itu bisa sampai 7 bulan lebih. Dan karena pewarnaannya itu juga full alam, bukan obat. Pewarnaan dari kayu yang dicacah-cacah terus direbus jadi pewarna alami," terangnya.

Selama mengibarkan bendera dagang "Batik Medira Sragen", Meydi mempekerjakan sekitar 40 orang karyawan. Dimana dalam perniagaan produk batiknya, ia hanya melakukan transaksi jual beli tatap muka yang biasa dilakukan melalui pameran-pameran atau bisa juga langsung datang di ke rumah produksinya di daerah Kliwonan, Masaran, Sragen.

Bukan tanpa alasan kenapa dirinya enggan melakukan penjualan dalam jaringan (daring), atau melalui sosial media yang saat ini gencar dilakukan oleh banyak pelaku usaha. Ia khawatir penjualan sistem daring membuat motif-motif batik gubahannya bakal dibajak pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

"Kalau online itu kan mesti pakai foto ya, sedangkan motif batik saya itu (sebagian besar) punya ciri khas sendiri, takutnya kalau saya masukan ke online atau Facebook, Instagram atau lainnya bisa nanti di tembak (bajak) orang lain," kata dia.

Ia menambahkan, alasan itu pulalah yang menjadi alasan kenapa dirinya tak terlalu berminat untuk mematenkan seluruh motif batik buatannya. Sebab, sekalipun sudah mendaftarkan hak cipta, kemungkinan karyanya bakal dijiplak orang lain tetap akan terbuka lebar.

"Kalau sekali pun di hak paten tetap percuma mas... Karena nanti kalau sudah dibedakan sedikit aja itu udah beda, ngga sama lagi... ini kan batik tulis ya mas, begitu nanti batik saya apload ke sosmed, takutnya bisa di tembak (bajak) sama batik printing, jadi rugi saya. Orang yang belum mengerti batik kan pinginnya beli batik yang murah, mereka ngga tau mana batik tulis asli, mana yang printing," tegas Meydi.

Ia mencontohkan bagaimana produsen batik kenamaan seperti Iwan Tirta, yang meski sudah memiliki hak paten pada produk-produknya tetap bisa dibajak dan tak bisa memperkarakan para pembajaknya ke jalur hukum lantaran motif batiknya sudah mengalami sedikit perubahan.

"Banyak orang yang bikin kaya dia (Iwan Tirta), tapi dia ngga bisa memperkarakan itu karena ngga persis sama kata Iwan Tirta, tapi sebenarnya modelnya itu sama," sambungnya.

Meydi mengharapkan hal tersebut bisa menjadi perhatian bagi pemerintah, bagaimana untuk bisa mencarikan solusi yang efektif sehingga polemik terkait "pembajakan halus" tersebut bisa dipangkas atau diminimalisir keberadaannya.

Pada kesempatan itu dirinya juga berharap, pemerintah bisa lebih mendukung industri batik dengan lebih gencar menggelar pameran-pameran dengan biaya yang dapat dijangkau oleh para perajin dan pengusaha batik lokal.

"Semoga pemerintah bisa lebih menggalakan dalam mempromosikan batik ini. Dan saat ada event-event pameran harga stand jangan tinggi-tinggi. Terus instansi-instansi pemerintah daerah, sama pusat, itu difasilitasi untuk bisa berkunjung dan belanja ke stand-stand batik. Dan saya mengharapkan sekali batik itu benar-benar dijunjung tinggi, karena ini warisan budaya nenek moyang," tukas Meydi menutup. []


Editor. Juaz

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Valentino Rossi dan Barcelona Bersaing Raih Gelar Comeback Terbaik 2017

Rabu, 17 Januari 2018 11:52 WIB

Rossi juga bersaing dengan olahragawan top dunia lainnya


4 Pasang Kontestan Pilkada Kota Bogor Lolos Uji Kesehatan

Rabu, 17 Januari 2018 11:45 WIB

Semua para calon dinyatakan mampu secara jasmani dan rohani serta bebas dari penyalahgunaan narkotika dan psikotropika.



Soal Video Mesum Mirip Marion Jola, Ini Komentar Maia Estianty

Rabu, 17 Januari 2018 11:44 WIB

Maia Estianty mengaku sudah mengetahui isu video mesum mirip kontestan Indonesian Idol bernama Marion Jola


Ronaldinho Ingin Akhiri Karier dengan Tur Keliling Dunia

Rabu, 17 Januari 2018 11:43 WIB

Ronaldo salah satu ikon sepakbola dunia


Kebijakannya Dikritik DPRD, Sandiaga Pilih Dengarkan Saran Menteri Rini

Rabu, 17 Januari 2018 11:42 WIB

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno menyebut bahwa pagar itu dicabut karena terlihat tidak bagus.


Nekat Jambret di Tempat Umum, Pria Ini Diamankan Polisi

Rabu, 17 Januari 2018 11:41 WIB

Polisi sigap mendengar teriakan dua siswa yang akan dijambret.


Sandiaga Ngaku Bakal Tunaikan Semua Kontrak Politiknya

Rabu, 17 Januari 2018 11:32 WIB

Keberadaan becak adalah kontrak politik gubernur sebelumnya.


Pelaku Pelecehan Seksual di Depok Mengaku Stres

Rabu, 17 Januari 2018 11:25 WIB

Amanda mengaku trauma untuk keluar rumah.


Selama Dini Hari Tadi, 19 Kali Guguran Warnai Gunung Sinabung

Rabu, 17 Januari 2018 11:25 WIB

Sementara itu, aktifitas kegempaan juga masih terus berlangsung. Tercatat gempa terjadi sebanyak 37 kali sepanjang subuh.


Tiga Hari Hilang, Saat Ditemukan Purnawiraman TNI Ini Luka di Kepala

Rabu, 17 Januari 2018 11:20 WIB

Ia ditemukan Polisi di kawasan Jalur Bus TransJakarta di Tanjung Priok.


Soal Perceraiannya, Ahok Hingga Kini Belum Dapat Panggilan dari PN Jakut

Rabu, 17 Januari 2018 11:11 WIB

Josefina tetap menunggu surat pemanggilan tersebut. Bahkan hal ini sudah dilaporkan ke kliennya pada Jumat (12/1) lalu.


Kaesang Pangarep Buktikan Kakaknya Mirip Personel Meteor Garden

Rabu, 17 Januari 2018 11:10 WIB

Kaesang Pangarep posting foto Gibran Rakabuming Raka yang buat warganet ngakak.


Anggaran FORMI Surabaya 2018 Capai Rp1,1 Miliar

Rabu, 17 Januari 2018 11:08 WIB

Anggaran FORMI yang dianggarkan dari APBD Kota Surabaya untuk kegiatan selama 2018 mencapai Rp1,1 miliar.


Dominasi Laga, Persija Justru Terima Kekecewaan dari Tim Malaysia

Rabu, 17 Januari 2018 11:04 WIB

Gol ke gawang Persija justru dicetak oleh sang mantan