Ritme Pasar Aksi Jual, Laju Pasar Obligasi Berpeluang Naik

akurat logo
Prabawati Sriningrum
Kamis, 14 September 2017 09:52 WIB
Share
 
Ritme Pasar Aksi Jual, Laju Pasar Obligasi Berpeluang Naik
Ilustrasi obligasi.. Foto: shutterstock.com

AKURAT.CO, Berlanjutnya pergerakan Rupiah yang kembali melanjutkan pelemahan berimbas negatif pada pergerakan pasar obligasi. Pelaku pasar kembali melakukan aksi jual seiring mulai terbatasnya kenaikan pada sejumlah seri obligasi.

"Obligasi korporasi kembali melemah dengan kenaikan tinggi pada imbal hasilnya," ujar Analis Bina Artha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (14/9).

Adapun untuk pergerakan masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) imbal hasilnya rata-rata masih bergerak naik 2,03 bps; tenor menengah (5-7 tahun) naik 1,53 bps; dan panjang (8-30 tahun) naik 2,60 bps.

Mulai adanya aksi jual membuat harga SUN cenderung melemah. Pada FR0061 yang memiliki waktu jatuh tempo ±5 tahun dengan harga 104,37% memiliki imbal hasil 5,91% atau turun -0,08 bps dari sebelumnya di harga 104,05% memiliki imbal hasil 5,99%.

Untuk FR0072 yang memiliki waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 110,74% memiliki imbal hasil 7,19% atau turun -0,32 bps dari sehari sebelumnya di harga 110,92% memiliki imbal hasil 6,87%.

Tampak pada Rabu (13/9), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price turun -0,19 bps di level 119,04 dari sebelumnya di level 119,27. Sementara itu, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun -0,06 bps di level 109,81 dari sebelumnya di level 109,88.

Sementara itu, pergerakan imbal hasil SUN 10Yr di level 6,46% di atas sebelumnya 6,43% dan US Govn’t bond 10Yr di 2,17% di atas sebelumnya 2,13%. Sehingga spread di level 429,4 bps di bawah sebelumnya 430,2 bps.

Sedangkan, pada laju imbal hasil obligasi korporasi, pergerakannya kembali naik tipis untuk sejumlah tenor dan rating seiring mulai adanya aksi jual. Pada obligasi korporasi dengan rating AAA dimana imbal hasil untuk tenor 9-10 bergerak naik di kisaran level 8,18%-8,26%.

Lalu, obligasi korporasi dengan rating AA untuk tenor 9-10 tahun, imbal hasil nya naik di kisaran level 8,90%-8,95%. Untuk imbal hasil pada rating A dengan tenor 9-10 tahun naik di kisaran 10,00%-10,03%, dan pada rating BBB naik di kisaran 12,60%-12,66%.

"Sentimen dari kian melemahnya laju Rupiah yang dibarengi dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS, tentunya akan menghambat pergerakan pasar obligasi dalam negeri," jelas Reza.

Dimana nantinya peluang pelemahan akan lebih besar dibandingkan dengan akan berbalik menguatnya pasar obligasi tersebut.

"Ritme pasar cenderung membuka peluang pelaku pasar untuk kembali melakukan aksi jual," imbuh dia.

Oleh karena itu, tetap cermati berbagai sentimen yang ada dan waspadai berbagai sentimen yang dapat menahan peluang kenaikan pada pasar obligasi. []


Editor. Juaz

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Apartemen Cimanggis City Bisa Dicicil Rp2 Juta per Bulan

Sabtu, 18 November 2017 11:46 WIB

Besaran DP pun bisa berkurang melihat kemampuan dari calon pembeli dan mempertimbangkan hal lainnya.


Ribuan Warga Muhammadiyah Peringati Milad ke-105 di Surabaya

Sabtu, 18 November 2017 11:46 WIB

Peringatan milad Muhammadiyah di Tugu Pahlawan Surabaya diharapkan memberi spirit dalam pergerakan Muhammadiyah.


Disney Tugaskan Stephen Chbosky Menulis Film Prince Charming

Sabtu, 18 November 2017 11:41 WIB

Disney menugaskan Stephen Chbosky untuk menulis film baru 'Prince Charming'.


Aneh, Burung Misterius Hanya Menyerang Pesawat yang Ditumpangi Orang Kristen

Sabtu, 18 November 2017 11:40 WIB

Burung itu ingin menyerang langsung ke posisi pilot, dan berusaha membuat pesawat jatuh dan kecelakaan


Perubahan Cuaca yang Tidak Menentu Berpotensi Munculnya Wabah Penyakit Ini

Sabtu, 18 November 2017 11:39 WIB

Perubahan cuaca yang tidak menentu dapat menyebabkan beberapa macam penyakit.


Indonesia-Malaysia Gunakan Cara Scientific Tepis Tuduhan Uni Eropa Terkait Kelapa Sawit

Sabtu, 18 November 2017 11:39 WIB

Indonesia dan Malaysia berinisiatif untuk mendirikan yang kita sebut councel of palm Oil Produsing Countries.


Billy Reid Hadirkan Sunglasses ala Zaman Klasik

Sabtu, 18 November 2017 11:33 WIB

Brand ini mengeluarkan koleksi kacamata model terbaru yang menjanjikan penggunanya lebih percaya diri.


Buka Cabang Baru, Equity Finance Indonesia Bidik Pembiayaan Rp130 Miliar

Sabtu, 18 November 2017 11:33 WIB

Selama ini pembiayaan di Bali, lebih banyak diserap oleh sektor pariwisata mengingat Pulau Dewata merupakan daerah tujuan wisata.


Bukti Mencengangkan, Mobil Listrik Ternyata Tidak Selalu Ramah Lingkungan

Sabtu, 18 November 2017 11:32 WIB

Mobil listrik diklaim ramah lingkungan dan dianggap tidak mengeluarkan emisi penyebab polisi, Tapi...


Pemkab Gandeng Kementerian Kominfo Gelar Edukasi UMKM Go Online

Sabtu, 18 November 2017 11:32 WIB

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mewujudkan program pemerintah menuju 8 juta UMKM.


108 Pemuda asal Maluku Utara Lulus Seleksi Masuk TNI

Sabtu, 18 November 2017 11:28 WIB

Selama sepekan lebih para peserta mengikuti karantina yang dipusatkan di Kompi Khusus Yonif RK 732/Banau


Berbahaya! Jangan Merokok di Depan Anak-Anak!

Sabtu, 18 November 2017 11:27 WIB

Rokok merupakan penyebab utama kanker. Sangat penting bagi keluarga untuk bekerja sama menjauhkan anak dari rokok.


Misi Rahasia Zuma SpaceX Ditunda Peluncurannya

Sabtu, 18 November 2017 11:25 WIB

Zuma adalah misi yang sifat dan badan di baliknya sangat mesterius.


Reaksi Mahfud MD terkait Rencana Pengacara Setnov Tuntut KPK ke Pengadilan HAM

Sabtu, 18 November 2017 11:19 WIB

Mahfud MD menilai pengacara Setya Novanto tak mengetahui fungsi dan tugas pengadilan HAM Internasional.


Puluhan UMKM Ramaikan Pekan Poros Maritim Berbasis Rempah

Sabtu, 18 November 2017 11:16 WIB

Dulu, Indonesia menjadi penghasil lada terbesar di dunia, tetapi sekarang Indonesia berada di urutan keempat.