'Pil Ajaib' Thailand Pacu Pertumbuhan Penduduk

akurat logo
Anggi Dwifiani
Kamis, 15 Februari 2018 08:45 WIB
Share
 
'Pil Ajaib' Thailand Pacu Pertumbuhan Penduduk
Pil ajaib yang berupa vitamin yang digalakan pemerintah Thailand untuk memacu pertumbuhan penduduk.. REUTERS

AKURAT.CO, Pemerintah Thailand terus berupaya mendongkrak tingkat kelahiran warganya. Sejumlah cara telah dilakukan diantaranya dengan memberi bonus tunai dan insentif pajak. Bahkan, dalam memperingati hari Valentine, negeri gajah putih itu telah mengadopsi cara baru, yakni dengan menggunakan pil vitamin.

Berdasarkan data dari Bank Dunia, Thailand merupakan salah satu negara di Asia yang memiliki jumlah penduduk berusia tua cukup tinggi. Namun, tingkat kelahiran menukik tajam.

Jika di tahun 1960 rata-rata setiap wanita memiliki 6 orang anak, maka angka tersebut mengalami penurunan drastis menjadi 1,5 pada tahun 2015.

Di Bangkok, para aparatur kesehatan menanganinya dengan memberikan asam folat dan pil zat besi dalam kotak merah muda di enam lokasi. Hal itu dilakukan untuk mendorong para pasangan agar mempersiapkan kehamilan.

Pemberian pil-pil ini dilengkapi dengan selembaran yang menjelaskan bagaimana untuk menjadi sehat secara sederhana dan mudah dipahami.

Sebelumnya, ikatan hubungan dan perkawinan adalah hal yang tabu untuk diperbincangkan. Namun dewasa ini kecenderungan itu perlahan berubah.

Kini masyarakat Thailand mulai terbiasa berdiskusi terkait perkawinan secara lebih terbuka. Peneliti kesehatan mengatakan, bagaimana pun masyarakat Thailand harus lebih sering mendiskusikan konsep kelahiran jika ingin mendongkrak angka populasi.

Setali tiga uang dengan China, negara seribu Pagoda itu memiliki populasi terbesar dalam jumlah penduduk berusia tua daripada negara berkembang lainnya di Asia Tenggara.

Populasi ini telah mencapai puncaknya dan diprediksi akan menurun di tahun 2030. Melihat potensi permasalahan ekonomi, seperti penurunan tenaga kerja dan wajib pajak dalam populasi umur pekerja, Pemerintah Thailand telah melakukan berbagai macam cara untuk meningkatkan angka kelahiran.

Namun, seperti negara tetangganya, Singapura, di mana tingkat kelahirannya nyaris menjadi yang terendah di dunia, sejauh ini negara-negara tersebut relatif belum cukup sukses mengatasi problematika tersebut.

Bonus uang tunai dan insentif pajak yang dilakukan Thailand untuk mendorong masyarakatnya agar termotivasi memiliki anak, telah menghasilkan sedikit peningkatan kelahiran. Kendati demikian, seperti dilansir dari Reuters, para analis mengatakan bonus uang tunai dan insentif pajak belumlah cukup membuat masyarakat Thailand tergugah untuk menyegerakan memiliki anak yang lebih banyak.

Tingkat kelahiran Thailand pada tahun 2015 sekitar 1,5 per wanita, di bawah Kamboja yang berada di angka 2,6 dan Malaysia yang rata-ratanya di angka 2,1. Ahli kesehatan mengatakan bahwa dibutuhkan tingkat kelahiran setidaknya sebesar 2,1 untuk tetap menjaga populasi.

Terdapat beberapa alasan kenapa masyarakat Thailand enggan atau menunda-nunda dalam memiliki anak. Diantaranya yakni karena tingginya biaya hidup, adanya komitmen terkait jam kerja, dan mata pencarian masyarakat saat ini yang jauh dari pertanian, dimana dalam bertani memang dibutuhkan jumlah anggota keluarga yang besar.

Selain itu, sejumlah pihak menuding, turunnya tingkat kelahiran tak terlepas dari kesuksesan kampanye kondom gratis di Thailand pada awal abad 1990 yang bertujuan untuk melawan virus HIV/AIDS.

"Dari 1970 hingga 1983 terdapat rata-rata 1 juta warga Thailand lahir. Setelah itu tingkat kelahiran mulai menurun. Sekarang hanya terdapat lebih dari 700.000 orang lahir setiap tahun," kata Kasem Wetsutthanon, direktur Lembaga Kesehatan dan Kesejahteraan Metropolitan (Metropolitan Health and Wellness Institution), seperti dilansir dari Reuters.

Ia menambahkan, saat ini para pasangan di Thailand memiliki tingkat rata-rata 1,5 anak. Padahal idealnya, Thailand mesti memiliki angka rata-rata 2,1 jika ingin memelihara populasi.

Kasem menuding, perubahan sikap terhadap unit berkeluarga secara tradisional turut mempengaruhi turunnya tingkat kelahiran.

"Kini, banyak yang memikirkan bahwa terdapat beban untuk memiliki anak, tidak seperti di masa lalu ketika anak adalah hal yang penting untuk keluarga." Kata dia.

Nalin Somboonying, 27, yang memiliki anak berumur empat tahun mengatakan, beberapa orang merasa perlu memiliki materi yang cukup dan mapan terlebih dulu sebelum memulai berkeluarga.

"Saya rasa di masa ini orang-orang ingin siap terlebih dahulu. Mereka merasa mereka harus memiliki sebuah rumah, mobil, pertama-tama sebelum memiliki anak," kata dia.

Sementara itu, Satta Wongdara, 31, yang bersama dengan istrinya mengambil beberapa pil vitamin dari program pemerintah di sebuah stan di Lak Si wilayah Bangkok, menyalahkan jam kerja yang panjang.

"Orang-orang masa kini bekerja lebih lama, sehingga mereka hanya memiliki anak yang sedikit," kata Satta.

Kasem berharap, pil-pil vitamin ini, dimana dia menyebutnya sebagai "pil ajaib" dapat menjawab masalah terkait rendahnya tingkat kelahiran di Thailand.

"Kami ingin membuat masyarakat memiliki lebih banyak anak," pungkasnya. []


Editor. Juaz

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Pengakuan Bocah Polos yang Perutnya Dipasangi Bom Bunuh Diri

Senin, 21 Mei 2018 15:38 WIB

Bocah bernama Uday terlihat polos. Dia mengikuti semua arahan tentara yang hendak menyelamatkan nyawanya.


Wacana Salat Tarawih di Monas, Pemprov Belum Berkoordinasi dengan Polisi

Senin, 21 Mei 2018 15:33 WIB

"Saya sampaikan tadi belum ada. Kita tunggu saja,"


Potensi Ziswaf Rp287 Triliun, Dompet Dhuafa: Ada 1.000 Kompetitor Makin Baik

Senin, 21 Mei 2018 15:32 WIB

Bambang mengaku tak khawatir dengan bermunculan kompetitor-kompetitor baru Dompet Dhuafa


HMI dan Ikhtiar Reformasi

Senin, 21 Mei 2018 15:31 WIB

Setiap kali memasuki tanggal 21 Mei selalu membuat ingatan kita terpental jauh ke 20 tahun yang lalu


20 Tahun Reformasi, Bamsoet: Pemerintah Belum Bisa Sejahterakan Rakyat

Senin, 21 Mei 2018 15:27 WIB

Pemerintah dinilai belum bisa menyejahterakan rakyatnya


Sampai Di Mana Olahraga Kita Setelah 20 Tahun Reformasi?

Senin, 21 Mei 2018 15:22 WIB

Tahun 1998 menjadi momen terbukanya seluruh sentimen yang membuat Indonesia seperti bangunan besar yang runtuh karena keropos.


PBB Prihatin dengan Bentrokan di Darfur

Senin, 21 Mei 2018 15:19 WIB

Mamabolo memuji PBB yang dengan cepat menanggapi dan membantu mereka yang terkena dampak konflik.


RUU Antiterorisme, Bamsoet: Minggu Ini Titik Terang

Senin, 21 Mei 2018 15:19 WIB

"Saya mendapat laporan bahwa tidak ada lagi hal yang krusial soal definisi,"


Mentan: Jangan Melulu Soal Beras, Komoditas Pangan Masih Ada 400 Jenis

Senin, 21 Mei 2018 15:15 WIB

Menteri Amran tekankan, tidak ada lagi alasan kenaikan harga pangan saat ramadan hingga lebaran nanti


4 Tim Tearatas PUBG Garuda Cup 2018 Berangkat ke SEA Championship di Thailand

Senin, 21 Mei 2018 15:15 WIB

Perhelatan ini diklaim sebagai turnamen offline game PUBG pertama di Indonesia.


Perayaan Scudetto Juventus Sulut Amarah Napoli

Senin, 21 Mei 2018 15:14 WIB

Juventus meraih gelar juara tujuh kali beruntun


Lima Tentara Libya Meninggal Kena Ranjau Darat

Senin, 21 Mei 2018 15:13 WIB

Tentara Libya menuduh kelompok bersenjata tersebut setia kepada Al-Qaeda.


Arab Saudi Bebaskan 690 Warga Ethiopia dari Penjara

Senin, 21 Mei 2018 15:05 WIB

MoFA mengatakan sekitar 690 warga diberi fasilitas transportasi gratis dari Arab Saudi ke Ethiopia.


Pertamina Ambil Alih Pengelolaan WK Ogan Komering

Senin, 21 Mei 2018 15:05 WIB

Penyerahan WK Terminasi Tuban dan Ogan Komering merupakan langkah strategis perusahaan dalam amankan pasokan produksi migas nasional