Perubahan Peta Perdagangan Minyak Mentah Dunia, Indikasi AS Rusak Pasar OPEC

akurat logo
Andi Syafriadi
Rabu, 14 Februari 2018 22:59 WIB
Share
 
Perubahan Peta Perdagangan Minyak Mentah Dunia, Indikasi AS Rusak Pasar OPEC
Sebuah tanker minyak berdiri di sebuah stasiun tambat dekat sebuah kilang di Bayonne, New Jersey, AS, 24 Agustus 2011.. REUTERS

AKURAT.CO, Pelan-pelan industri perminyakan Amerika Serikat (AS) akan mengubah pasar energi dunia.

Review Reuters menunjukkan ada beberapa perubahan kondisi industri perminyakan global. Pertama, adanya penurunan secara drastis pada impor minyak mentah Amerika Serikat.

Kondisi ini mengakibatkan terjadinya pengikisan pada pasar produsen terbesar seperti negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). Ekspor AS dalam dua tahun belakangan ini mengalami lonjakan. Saat ini, Amerika Serikat sedang mencoba melebarkan ekspornya ke wilayah ASIA.

Pengiriman minyak AS ke China terus mengalami peningkatan. Dalam situasi ini, pemerintah AS berupaya agar tidak mengalami defisit dalam perdagangan minyak mentah terhadap China.

Hal tersebut menjadikan AS berada di atas Arab Saudi sebagai negara pengekspor minyak mentah. Amerika Serikata saat ini bisa dikatakan sebagai Eksportir nomor 1 di dunia yang sebelumnya di pegang oleh Rusia pada akhir tahun ini.

Perkembangan tersebut bahkan mengejutkan bagi Administrasi Informasi Energi di Amerika Serikat, yang memperkirakan adanya kenaikan produksi minyak mentah pada tahun 2018 menjadi 10,59 juta barel per hari. Padahal, minggu sebelumnya ia hanya memperkirakan sekitar 300.000 barel per hari.

Pada 2016, AS melakukan perjanjian dengan Korea Selatan dan Jepang sebagai mitra perdagangan bebas. Hanya sedikit yang memperkirakan China akan menjadi pembeli utama pasar minyak mentah global.

Menurut data di Thomson Reuters, AS melakukan pengiriman minyak mentah ke China pada Januari ini sekitar 400.000 barel/hari yang bernilai sekitar USD1 miliar. Selain itu, AS mengirim setengah juta ton gas alam cair (LNG) senilai USD300 juta menuju China.

Persediaan minyak mentah AS akan mengurangi surplus perdagangan China dengan AS dan memungkinkan akan adanya tuduhan yang dilayangkan oleh presiden AS Donald Trump terhadap China, yang menyebutkan bahwa Beijing melakukan perdagangan secara tidak adil.

"Tekanan pemerintahan Trump kepada China bermaksud menyeimbangkan perdagangan dengan AS," ujar Marco Dunand selaku CEO Mercuria.

Saat ekspor energi semakin meningkat, surplus perdagangan China pada Januari lalu dengan AS menipis hingga menjadi USD21,895 miliar, dari sebelumnya surplus hingga USD25,55 miliar yang tercatat pada Desember 2017.

Penjualan energi ke China masih terbilang cukup tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan USD9,7 miliar minyak yang dikirimkan oleh OPEC ke China pada bulan Januari. Tetapi, mereka sudah melakukan pemotongan pada pasar energi yang didominasi oleh negara-negara seperti Arab Saudi dan Rusia.

"Kami melihat minyak mentah Amerika Serikat sebagai pelengkap basis minyak mentah terbesar kami dibandingkan dengan Timur tengah dan Rusia," ujar seorang manajer kilang minyak Sinopec di China, yang menolak untuk disebutkan namanya.

Ia menambahkan, Sinopec ingin memesan lebih banyak minyak mentah dari AS pada tahun ini. Impor minyak mentah China naik menjadi 9,57 juta barel per hari pada Januari.

Sementara itu, impor AS telah turun mejadi 4 juta barel per hari. Tercatat pada tahun 2005 sekitar 12,5 juta barel per hari.

Rata-rata pada bulan Desember dan Januari, penjualan minyak dan gas AS ke China bernilai sekitar USD10 miliar per tahun. Termasuk, ekspor ke Jepang, Korea Selatan dan Taiwan yang mengalami peningkatan hingga dua kali lipat.

Ekspor AS akan menjadi lebih besar lagi, namun yang menjadi kendala adalah infrstruktur. Yakni, tidak adanya pelabuhan di AS yang dapat menampung kapal besar tanker minyak yang dikenal sebagai Crude Carriers (VLCC). Untuk mengatasinya, melalui fasilitas terbesar di teluk Meksiko, yaitu Louisiana Offshore Oil Port Service (LOOP) yang saat ini sedang dikembangkan.

Bagi pembeli minyak mentah di China, daya tarik utama minyak mentah AS adalah harga. Minyak AS lebih murah daripada minyak yang dijual oleh negara lain, sekitar USD60,50 per barel. Minyak mentah AS saat ini sekitar USD4 per barel.

Bagi minyak yang diproduksi OPEC yang didominasi oleh Rusia dan Timur Tengah, telah menahan produksinya sejak tahun 2017 dalam upaya untuk mendorong harga yang lebih tinggi.

"OPEC dan Rusia menerima kenyataan bahwa AS akan menjadi produsen terbesar, lantaran mereka hanya ingin mendapatkan harga di pasar yang ada," ujar Dunand.

Sejak dimulainya penurunan pasokan yang dipimpin oleh OPEC, pada Januari 2017 lalu, harga minyak telah meningkat menjadi 20%, meskipun harga pada bulan Februari kembali mendapatkan tekanan dari AS yang sedang melonjak.

Luapan minyak yang dihasilkan oleh Amerika Serikat akan mengubah harga minyak mentah. Sebagian besar produsen OPEC menjual minyak mentah dalam kontrak jangka panjang dengan harga tiap bulan. Sebaliknya, produsen AS mengekspor berdasarkan biaya pengiriman dan penyebaran harga minyak mentah lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya lonjakan volume perdagangan dalam jangka waktu yang panjang.

"Kami tidak memperdulikan kenaikan ekspor AS, kelebihan kami sebagai pemasok tiada duanya, dan kami juga memiliki basis pelanggan tertinggi dengan perjanjian jangka panjang," kata Amin Nasser selaku Presiden & CEO Saudi ARAMCO, yang kini masih menjadi perusahaan kilang minyak terbesar Arab Saudi. []


Editor. Juaz

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Dijadikan Tersangka Dugaan Korupsi, Kadis PU Papua Siap Diproses Hukum

Senin, 21 Mei 2018 17:45 WIB

Kadis PU Provinsi Papua, Djuli Mambaya, jadi tersangka korupsi pembangunan Terminal Nabire tahun 2016 yang merugikan negara sebesar Rp 1,7 M


Menteri LHK dan KPK Bahas Konflik Lahan di Trenggalek dan Teluk Jambe

Senin, 21 Mei 2018 17:38 WIB

Sengekta tanah ini memang belakangan sempat mencuat hingga ke depan istana



DPR Minta Pemerintah Transparan Terkait Impor Beras

Senin, 21 Mei 2018 17:36 WIB

Bam Soesatyo sayangkan perbedaan data ketersediaan pangan antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan


Lulus dari Indonesian Idol, Bianca Jodie dan Marion Jola Kompak Tolak Tawaran Main Film

Senin, 21 Mei 2018 17:36 WIB

Keduanya kompak ingin fokus berkarier di dunia musik.


Angkatan Udara Kerajaan Saudi Berhasil Cegat Rudal yang Diluncurkan Milisi Houthi

Senin, 21 Mei 2018 17:36 WIB

Iran dinilai sudah melanggar Resolusi 2216 dan 2231 yang dikeluarkan PBB.


Jangan Lewatkan Konsumsi Alpukat Ya Busui, Ini Manfaatnya

Senin, 21 Mei 2018 17:35 WIB

Bayi Anda sangat sehat dari kebiasaan ini.


TeenSafe, Aplikasi Pemantau Ponsel Berpotensi Langgar Privasi

Senin, 21 Mei 2018 17:35 WIB

Peneliti keamanan yang berbasis di Inggris, Robert Wiggins, menemukan pelanggaran data.


Ormas RKIH Targetkan Restoran dan Dispenda Terkoneksi Sistem IT

Senin, 21 Mei 2018 17:26 WIB

RKIH sangat mendukung pengembangan ekonomi berbasis IT.


Southgate: Kemenangan Liverpool di Liga Champions Positif untuk Inggris di Piala Dunia

Senin, 21 Mei 2018 17:23 WIB

"Pemain seperti Jordan Henderson, Alex Oxlade-Chamberlain, Adam Lallana, dan Trent Alexander-Arnold akan mendapat pengalaman penting."


Tuding Mantan Teroris Sebagai Intel, Rizieq Shihab Bakal Dipolisikan

Senin, 21 Mei 2018 17:22 WIB

Sofyan meminta FPI terutama Rizieq segera menarik pernyataan kalau dirinya bukanlah intel Kepolisian


29 Kabupaten dan Kota di Papua Diminta Perketat Pengawasan Pendatang

Senin, 21 Mei 2018 17:18 WIB

Kapolda menegaskan wajib lapor untuk mendeteksi adanya potensi kerawanan.


Sutriyadi Terpilih sebagai Formatur Ketum HMI Cabang Malang 2018-2019

Senin, 21 Mei 2018 17:15 WIB

"Semoga amanah dan tetap dalam semangat visi dan misi yang ada dengan menakar politik nilai untuk masa depan"


Gregoria Bawa Indonesia Berbalik Ungguli Malaysia

Senin, 21 Mei 2018 17:12 WIB

Fitriani gagal menyumbang angka di partai perdana.