Fadli Zon: Akal-Akalan Impor Beras Buat Petani Mati di Lumbung Padi

akurat logo
Aji Nurmansyah
Minggu, 14 Januari 2018 16:09 WIB
Share
 
Fadli Zon: Akal-Akalan Impor Beras Buat Petani Mati di Lumbung Padi
Plt Ketua DPR Fadli Zon saat menerima kunjungan Duta Besar Kazakhstan Askhat T. Orazbay di ruang tamu pimpinan, Nusantara III, Gedung MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Senin (8/1). Pertemuan ini untuk membicarakan berbagai kebijakan dan kerjasama bilateral antar kedua negara.. AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Dagelan beras makin panas, rencana Kementerian Perdagangan untuk impor beras 500.000 ton membuat gaduh dinamika ekonomi politik nasional. Belum lagi sikut-sikutan antar menteri dimana sebelumnya Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan memang stok beras tinggal 1 juta ton, tapi tak lama lagi panen raya tiba. Namun Menteri Perdangangan mengatakan akan mengimpor beras jumlahnya, tak tanggung-tanggung 500.000 ton.

Kontan saja dagelan beras membuat kegaduhan publik. Semua pihak bersuara, mulai dari petani beras lokal, ahli, pengamat hingga Anggota DPR RI. Untuk menolak impor beras itu. Kali ini giliran punggawa partai oposisi yang teriak-teriak meributkan perkara hajat perut masyarakat Indonesia ini. Setelah mendapat kritik dari berbagai pihak Padli Zon Wakil Ketua Umum Gerindra yang juga menjabat Wakil Ketua DPR RI menyurakan ketidak setujuannya.

Pasalnya, Rencana pemerintah untuk mengimpor beras sebesar 500.000 ton pada akhir Januari 2018 mendapat kritik dari Ketua Umum DPN HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) Fadli Zon. Menurutnya, rencana tersebut hanya membuktikan kacaunya tata kelola pangan pemerintah, sekaligus menunjukkan rendahnya mutu data pangan yang selama ini mereka miliki. Sebab Impor beras pada masa panen raya ini nilai aneh dan membuat bingung banyak pihak.

“Saya melihat kebijakan impor beras ini sangat aneh. Pernyataan pemerintah tidak ada yang sinkron satu sama lain. Paling tidak ada empat keanehan yang saya catat, misalnya. Pertama, Kementerian Pertanian hingga saat ini masih klaim Januari 2018 ini kita mengalami surplus beras sebesar 329 ribu ton. Dengan mengacu data BPS, Kementan menyatakan bahwa sepanjang 2017 produksi beras mencapai 2,8 juta ton, sementara tingkat konsumsi kita sekitar 2,5 juta ton. Jika angka-angka ini benar, kita seharusnya memang surplus beras. Namun anehnya harga beras di pasar justru terus naik.” Ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya di Jakarta (14/1).

Fadli berpikir ada banyak sekali keanehan dalam perkara impor beras ini. Pasalnya menurut dia izin impor yang diterbitkan merupakan beras premium. Sementara konsumsi paling besar masyarakat Indonesia terletak di beras medium.

“Kedua, pemerintah menyebut bahwa kelangkaan beras terjadi pada golongan beras medium, yang selama ini dikonsumsi oleh kalangan menengah, namun izin impor yang diterbitkan Kementerian Perdagangan malah untuk beras premium. Ini kan tidak nyambung. Yang dianggap masalah adanya di mana, tapi penyelesaiannya entah ke mana.” Tambahnya.

Disisi lain impor beras sejatinya untuk membuat stabil harga beras di pasaran. Namun alih-alih menstabilkan harga Fadli mempertanyakan adanya peraturan Menteri yang melegitimasi impor beras. Lantas bagaimana dengan nasib petani beras lokal? Bagaimana mungkin mengharapkan petani swasembada beras, sementara kesejahteraan petani beras tidak diperhatikan? Jangan menyalahkan petani ketika ramai-ramai petani meningggalkan pekerjaan dan mencari kerja sebagai buruh pabrik yang lebih pasti mendapatkan penghasilan. Selain itu tidak dihantui kran impor beras.

“Keanehan ketiga, pemerintah berdalih impor beras bulan ini untuk menstabilkan harga beras, artinya untuk keperluan umum. Nah, sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk Permendag No. 1/2018, yang disusun untuk melegitimasi impor beras ini, izin impor untuk keperluan umum hanya dapat dilakukan oleh Bulog. Silakan baca Pasal 16 Permendag No. 1/2018. Nah, ini Menteri Perdagangan malah memberikan izinnya ke perusahaan lain.” Tandasnya.

Tak hanya itu, menurut Fadli miris melihat kenyataan impor beras terjadi dikala musim panen. Petani seharus tengah berbahagia. Lantaran jerih payahnya akan diserap oleh Perum Bulog dengan harga tinggi. Namun beda mimpi petani, beda realita yang terjadi. Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, petani mati dilumbung padi milik sendiri.

“Dan keanehan keempat, izin impor ini dikeluarkan pemerintah persis pada saat petani kita sedang menghadapi musim panen. Bagi saya, empat keanehan itu sudah lebih dari cukup membuktikan pemerintah selama ini memang tidak transparan dalam mengelola kebijakan pangan.” Paparnya.

Fadli menilai ada yan tidak bers.Ia mencium adanya aroma permainan. Ia juga menilai kenaikan harga beras terlalu dibesar-besarkan. Hal semacam ini menurut dia merupakan akal-akalan pihak tertentu untuk melegitimasi impor beras itu.

“Saya juga menilai bahwa yang membesar-besarkan kenaikan harga beras belakangan ini sebenarnya adalah pemerintah sendiri. Dan itu dipicu oleh aturan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang tak masuk akal. Saat keseimbangan harga di pasar beras berada di atas Rp9.000, pemerintah malah menetapkan HET beras medium, misalnya, di angka Rp9.450. kebijakan tersebut benar-benar sulit dinalar. Bahkan muncul kesan kebijakan HET itu seakan-akan merupakan prakondisi untuk melegitimasi impor beras awal tahun ini.”kata Fadli.

Fadli melanjutkan masalah dan solusi yang disiapkan pemerintah tidak singkron. Ketika produksi padi surplus. Petani sedang menghadapi panen raya namun pemerintah terkesan sewenang-wenang dengan membuka keran impor beras. Walahhh, bagaimana dengan nasib panen beras milik petani lokal? Pasalnya angka 500.000 ton bukan perkara main-main. Ini hanya akan menyakiti hati petani beras di dalam negeri.

"Kalau harga beras naik, sementara di sisi lain pemerintah mengklaim produksi beras sebenarnya sedang surplus, maka yang seharusnya dilakukan pemerintah adalah melakukan operasi pasar, dan bukannya impor. Impor beras di saat menjelang panen hanya akan menekan harga gabah petani. Harga gabah petani pasti anjlok. Jadi, kebijakan tersebut sebenarnya hanya menyakiti petani saja. Lagi pula, angka impor 500 ribu ton itu apa dasar perhitungannya?!” tegasnya.

Ia menuding jika pada realitanya harga beras memang minus. Berarti pemerintah telah melakukan kebohongan publik dengan menyebar data stok beras tercukupi. Tanpa mengedepankan kajian ilmiah yang harus di sampaikan kepada publik. Karena pada realitanya beras harus impor untuk menambah stok dan menstbailkan harga.

“Jikapun stok beras kita memang minus, yang artinya pemerintah selama ini berbohong dengan klaim surplus beras, saya berharap agar setiap rencana impor, berapa jumlah yang perlu diimpor, dan kapan sebaiknya impor dilakukan, dikaji secara matang dan transparan dulu. Jadi tidak ujug-ujug muncul angka 500 ribu ton tanpa ada dasar alasannya.” Pungkasnya.

Terakhir Fadli menyanyangkan pemeritah begitu sampai hati, melihat petani dihancurkan oleh impor beras. Karena menurut dia pemerintah punya kewajiban untuk mencegah impor beras ini dari semacam jalan perburuan rente. Impor harus dihitung dengan matang. Jagan sampai akal-akalan beras untuk menstabilkan harga hanya untuk cari untung dan memperkaya diri sendiri dan golongan.

“Hal penting lainnya, kalau memang perlu impor dengan kajian jumlah dan waktu yang sudah dikalkulasi matang, impor itu harus dilakukan oleh Bulog. Jangan cari untung dengan dalih stabilkan harga. Bulog juga tidak boleh ambil untung dari impor beras. Itu sebabnya proses impor oleh Bulog juga harus transparan dan diawasi ketat,” tutup dia . []

 


Editor. Juaz

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Menelusuri Sejarah Pulau Penyengat di Tanjung Pinang

Rabu, 17 Januari 2018 16:33 WIB

Pulau ini juga menjadi salah satu cikal bakal Bahasa Indonesia.


Satkar Ulama Punya Cara Menangkan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim

Rabu, 17 Januari 2018 16:33 WIB

Satkar Ulama akan mengerahkan ribuan guru ngaji di pondok pesantren di bawah binaannya untuk mensosialisasikan pasangan Khofifah-Emil.



Menkominfo Sebut Google Bisa Jadi Contoh Tarik Pajak OTT

Rabu, 17 Januari 2018 16:28 WIB

KEwajiban pajak Google capai Rp450 M per tahun dengan asumsi margin keuntungan sebesar Rp1,6 T-Rp1,7 T per tahun.


Hanya Karena Kecoa, Pesawat British Airways Dikandangkan

Rabu, 17 Januari 2018 16:26 WIB

Awak kabin pesawat British Airways menolak menerbangkan pesawat karena menemukan kecoa di dalam pesawat.


Bangladesh Tampung Lebih dari Sejuta Pengungsi dari Rohingya

Rabu, 17 Januari 2018 16:24 WIB

Militer Bangladesh memulai pendataan biometrik pengungsi tahun lalu setelah gelombang pengungsi Rohingya masuk dari Myanmar.


Pengamat: Lebih Baik Becak Dioperasikan di Kawasan Wisata

Rabu, 17 Januari 2018 16:24 WIB

Syafuan Rozi yang merupakan peneliti dari LIPI menilai operasinal becak akan menimbulkan masalah baru


Kemenperin Gencarkan Program E-Smart IKM

Rabu, 17 Januari 2018 16:23 WIB

Kemenperin menargetkan 4.000 pelaku industri kecil dan menengah (IKM) agar bisa memasarkan produk secara online


Sstt...Ini Rahasia Badan Indah dan Wajah Cantik Katy Perry

Rabu, 17 Januari 2018 16:22 WIB

Katy Perry akui tak pernah operasi plastik dan ia suka makan. Oh yaa?


Gelar Undian dengan Hadiah Utama 2 Unit Mobil, Adira Finance Manjakan Konsumen

Rabu, 17 Januari 2018 16:18 WIB

Hapid berharap perusahaan pembiayaan ini mampu terus memanjakan pelanggan setia Adira Finance.


Tak Menyerah Kejar City, MU Belajar dari Kegagalan Musim 2011-2012

Rabu, 17 Januari 2018 16:17 WIB

MU tertinggal 12 poin dari sang pemuncak klasemen.


OSO Tak Mau Ungkap Konflik Hanura, Ini Alasannya

Rabu, 17 Januari 2018 16:17 WIB

OSO mengklaim Ketua Dewan Pembina Partai Hanura, Wiranto, mendukung kepemimpinannya.


MUI: Putusan MK Soal Penghayat Kepercayaan Lukai Perasaan Umat Beragama

Rabu, 17 Januari 2018 16:15 WIB

Karena putusan tersebut berarti telah menyejajarkan kedudukan agama dengan aliran kepercayaan.


Kecerdasan Buatan Pembaca Usia Sel Tubuh Bantu Perpanjang Umur

Rabu, 17 Januari 2018 16:14 WIB

Artificial Intelligence mampu memprediksi usia seseorang hanya dengan melihat fotonya


Sakit Tak Kunjung Sembuh, Pria 42 Tahun Terjun dari Lantai 6 RS Sumber Waras

Rabu, 17 Januari 2018 16:14 WIB

Tjong Bu Fen (42) nekat terjun dari lantai 6 di rumah sakit Sumber Waras, Rabu dini hari