Teknologi Alutsista Meningkat, Sinergi Akuisisi Pertahanan Perlu Diruwat

akurat logo
Haryo B. Rahmadi
Sabtu, 06 Januari 2018 12:55 WIB
Share
 
Teknologi Alutsista Meningkat, Sinergi Akuisisi Pertahanan Perlu Diruwat
Haryo B. Rahmadi, Pengajar Pasca Sarjana Universitas Pertahanan Indonesia. ISTIMEWA/dok.Pribadi/BANYUMASNEWS.COM

AKURAT.CO, Integrated Helmet and Display Sighting System (IHADSS), atau sistem display penglihatan yang terintegrasi dengan helm, sebuah konsep helm (agak) baru dimana peran helm diperluas untuk memberikan antarmuka yang terintegrasi secara visual antara penerbang dan pesawat terbang. Demikianlah terjemahan bebas dari Wikipedia tentang IHADSS, sebuah sistem yang terpasang pada helikopter serbu AH-64 Apache, salah satu jenis alutsista terbaru yang dimiliki Indonesia di penghujung tahun 2017 lalu. IHADSS menggunakan pemancar infra merah pada helm penerbang Apache yang terhubung dengan kamera termografi di hidung Apache dan dengan laras senjata. Dengan IHADSS ini, laras senjata akan bergerak sinergis dengan gerakan kepala penerbang Apache. Apapun obyek yang dilihat oleh penerbang Apache melalui helm-nya, otomatis siap dikunci sebagai sasaran tembak. Kekompakan helm dan laras senjata Apache ini sangat memudahkan penghancuran sasaran seiring helikopter bermanuver cepat, menjadikan Apache sebagai helikopter yang sangat serbu sesuai namanya, AH alias "Attack Helicopter".

Terlepas dari nasibnya yang lagi mangkrak, di awal tahun 2017 lalu telah tiba pula di tanah air (hanya) sebuah helikopter lain yang tidak kalah canggih dari AH-64 Apache. AW-101, putra mahkota raja helikopter Westland dari Inggris dengan ratu helikopter Agusta dari Italia. AW-101 memiliki daya integrasi paling mutakhir dari sistem avionik, navigasi, komunikasi, serta safety and security systems untuk siap mengemban berbagai macam misi dengan platform yang dimilikinya. Mulai dari troop transport, utility support, CASEVAC/MEDEVAC, ultra long combat and amphibious support search and rescue (SAR), Intelligence Surveillance and Reconnaissance (ISR), Maritime Interdiction Operations (MIO), Anti Surface Warfare (ASuW), Anti-Submarine Warfare (ASW), Airborne Surveillance and Control (ASaC), Airborne Mine Countermeasures (AMCM), dan VERTREP. Di samping kemampuan tempur tersebut, AW-101 juga dikenal memiliki stabilitas dan kenyamanan yang luar biasa sehingga memungkinkan pendayagunaan sebagai VVIP head of government and state transport.

Selain kedua jenis helikopter di atas, tahun 2017 yang lalu juga mencatat kedatangan pesawat tempur F-16 Blok 52ID yang merupakan retrofit dari versi F-16 sebelumnya hingga kemampuannya setara dengan pesawat tempur F-16 generasi terbaru. Sementara, Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh juga sudah melengkapi diri dengan peralatan komplet perawatan Hercules C-130 yang menjadi tulang punggung operasi dukungan Logistik, pasukan, kemanusiaan dan dukungan operasi lainnya seperti penerjunan pasukan pemukul reaksi cepat TNI. Pada tahun 2017 ini tercatat pula kemajuan kesepakatan Rusia dengan Indonesia untuk mendatangkan jet tempur Sukhoi Su-35 guna melengkapi Su-27SK and Su-30MK2 yang telah lebih dulu memperkuat pertahanan negara.

Sukhoi yang dijuluki Flanker alias si tukang tikung ini mampu menanjak setinggi 55.000 kaki per menit, melesat dengan kecepatan 2,25 kali kecepatan suara atau hampir 1 km per detik, dan mampu menanggung tekanan hingga 9(sembilan) kali kekuatan gravitasi. Selain dilengkapi autocannon dengan proyektil selebar lebih dari cerutu super (Gryazev-Shipunov GSh-301 30mm), si tukang tikung ini masih mampu mengangkat aneka senjata dari roket, rudal, hingga bom sampai seberat 8(delapan) ton. Untuk Angkatan Laut, telah tiba pula kapal selam KRI Nagapasa-403 yang merupakan produksi bareng Indonesia dan Korea. Ia mampu melaju dengan kecepatan 21 knot serta berkelana lebih dari 50 hari di bawah air. Nagapasa yang dipersenjatai delapan tabung peluncur torpedo 533 mm dan rudal antikapal permukaan ini mampu menampung 40 awak di dalamnya.

Singkatnya, tahun 2017 menjadi saksi peningkatan bertahap teknologi dan postur pertahanan negara yang mengandung karakteristik pokok 1) sinergi kapabilitas seperti IHADSS, 2) fleksibilitas operasional seperti AW-101, 3) kolaborasi seperti pada Nagapasa, dan 4) pendayagunaan "existing capabilities" seperti pada F-16 Blok 52ID dan peralatan komplet perawatan C-130. Bahkan untuk progres kesepakatan Sukhoi ada sinergi yang lebih penting untuk diangkat, yaitu kesepakatan imbal dagang dengan aneka komoditas perkebunan. Hal ini menunjukkan adanya sinergi kesejahteraan dan keamanan yang di satu sisi membantu batasan fiskal pertahanan, dan di sisi lain menerobos pasar komoditas perkebunan khususnya sawit yang selama ini sering diganjal masuk pasar Eropa. Sayangnya, keempat karakteristik peningkatan teknologi alutsista yang dijejerkan barusan tidak serta merta tercermin dalam proses akuisisi pertahanan di tataran internal negeri sendiri.

Berbeda dengan sinergi kapabilitas seperti IHADSS, pengalaman proses akuisisi pertahanan di Indonesia rawan terhinggap deviasi antara arah penglihatan dengan alutsista yang akhirnya dibidik. Hal ini terutama sekali terlihat dalam perkembangan dan realisasi Minimum Essential Force (MEF) sejak pertama kali digulirkan hingga saat ini. Meskipun demikian, volatilitas MEF ini masih bisa dimaklumi karena moda ancaman yang timbul dari lingkungan strategis juga sangat dinamis, dan perkembangan gaya dan teknologi alutsista pun berubah cukup cepat. Dalam konteks ini, maka perencanaan alutsista pun dituntut untuk tetap mampu beradaptasi di tengah batasan regulasi dan fiskal yang ada. Kenyataannya, dengan elemen yang menjalar dari aspek strategis hingga spesifikasi teknis dan klausul kontrak yang mendetil, tidak akan ada satu dokumen perencanaan apapun yang akan tetap relevan hingga sekian tahun lamanya. Namun demikian, sekali suatu sistem senjata sudah diakuisisi, maka ia harus dapat berdayaguna hingga detik terakhir penugasannya, dalam pertempuran ataupun dalam daur hidup yang dapat dijangkau alutsista tersebut.

Dalam hal fleksibilitas operasional seperti AW-101, bangsa Indonesia sudah terkenal sebagai ahlinya ngulik. Jangankan menghidupkan motor tua, menerbangkan pesawat rusak pun mampu kita lakukan bertahun-tahun. Seperti kata Bung Karno dalam pidatonya "Capailah Tata Tentram Kerta Raharja" pada tahun 1951, "sapi terbang" pun masih mungkin. Di tengah badai embargo bertahun-tahun, alutsista Indonesia yang menua masih sanggup menopang pertahanan negara dan tentunya moral prajurit, dan bangsa secara keseluruhan. Tapi tetap saja, sepandai-pandainya ngulik, batasan mekanis tetap ada sehingga banyak alutista kita jatuh dan rusak, alhasil bukan hanya kerugian materiil saja yang timbul, namun jelas kehilangan jiwa personil yang merupakan "the man behind the gun". Tanpa perlu banyak berteori, rakyat tahu bahwa para perwira ksatria di belakang alutsista inilah yang tak tergantikan, para prajurit yang juga harus berperan melebihi panggilan tugas demi menjalankan dharma baktinya sekaligus memenuhi kebutuhannya sebagai warga negara juga.

Namun sayangnya, seiring kita melihat lebih dalam kepada proses akuisisi pertahanan, jangankan fleksibilitas operasional, apalagi melebihi panggilan tugas, yang semakin menonjol malah ego sektoral dengan dalih redaksional regulasi. Cita-cita "Check and balance" melalui penataan peran dan fungsi sektoral yang menegaskan rambu kewenangan dan tanggungjawab kementerian/lembaga dalam proses akuisisi pertahanan di Indonesia perlahan berevolusi menjadi gumpalan penyekat pembuluh darah proses pengadaan alutsista. Kebijakan demi kebijakan terkait akuisisi dan industri pertahanan terus digulirkan bak "rapid fire" pada berbagai tingkatan yuridis mulai dari Undang-Undang hingga Peraturan Menteri, dan bahkan pada tingkatan regulasi yang lebih teknis di bawahnya. Namun ini semua hanya meninggalkan "regulatory loop-holes" yang memaksa koordinasi lebih kompleks. Sementara itu, kata kolaborasi dan koordinasi yang banyak menghiasi program-program alutsista di Indonesia kian menjadi penanda, bahwa ada bahaya laten ego sektoral di dalamnya. Kita bersyukur Nagapasa menjadi kisah sukses yang kesekian kalinya, tapi tak heran untuk hal yang lebih kompleks, sebagai misal kesepakatan imbal dagang Sukhoi dengan pembukaan pasar produk sawit kita di Rusia, toh masih banyak menuai cibiran di samping kegembiraan. Seakan kita lupa bahwa dulu CN-235 kita ditukar dengan ketan.

Untuk pendayagunaan "existing capabilities" seperti pada F-16 Blok 52ID, sudut pandangnya agak sedikit berbeda. Kebanggaan menunggu Fighter Pilot Agung Sasongkojati, Zaky Ambadar, dan Basri Sidehabi cs mengantar F-16 pertamakalinya 28 tahun yang lalu tak mungkin kita rasakan kembali dengan kedatangan barang retrofit baru-baru ini. Namun demikian, ide pendayagunaan kapabilitas yang ada ketimbang mengambil yang sama sekali baru tetap merupakan ide yang baik dan mulia. Sayangnya (lagi), pendayagunaan "existing capabilities" ini tidak mudah diterapkan untuk konteks industri pertahanan nasional (nasional artinya milik "nation"/bangsa). Industri pertahanan nasional dewasa ini digeladi dalam alam kompetisi murni dengan orientasi yang lebih komersial termasuk upaya pendanaan melalui bank komersial. Pasar dilebarkan ke luar negeri, sementara negeri sendiri lebih senang membeli produk impor. Pilihan yang memang sulit, antara ingin mandiri yang berarti harus meniti jalan panjang ke masa depan, atau ingin kuat segera yang berarti membeli barang jadi buatan luar yang memang harus diakui (sementara ini masih) lebih keren seperti AH-64 dan AW-101.

Tidak ada rumus baku untuk mengobati permasalahan dan kendala yang menggayuti dunia akuisisi pertahanan kita. Tapi semua itu cukup dibekali dengan keinginan untuk mendahulukan kepentingan yang lebih luas yang sekarang terkeping-keping oleh sekat sektoral. Dalam praktiknya, tidak ada alasan sejatinya bagi siapapun apakah itu lembaga maupun individu untuk meletakkan "Check and Balance" semata untuk kepentingan "Check and Balance" itu sendiri, layaknya orang berdebat tidak untuk mencari titik temu, namun semata, karena kegemarannya berdebat. Apalagi untuk secara nyata mengutamakan kepentingan sektoralnya. Terutama ketika berbicara pertahanan keamanan, maka tujuan finalnya adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang benar dan baik untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Perhatikanlah meskipun bukan si Gatot Kaca, tetapi Nurtanio sebagaimana nama yang diberikan oleh Presiden Jokowi untuk N-219 di tahun 2017 lalu, bukanlah blasteran Spanyol seperti Tetuko yang mendahuluinya. Nurtanio ini lebih kecil, berayah PT Dirgantara Indonesia asli Bandung, dan beribu Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) asli Serpong, dengan huruf "N" yang berdiri sendiri menunjukkan masih adanya cikal kemandirian itu. Dan kita berhasil menyepakati imbal dagang sawit dengan Sukhoi yang tidak dimiliki Amerika. Dan kita berhasil mendatangkan Apache yang tidak dimiliki Rusia. Untuk negara yang mampu menyinergikan kapabilitas seteru bebuyutan teknologi pertahanan global, apakah alasanmu yang sahih untuk tidak menyinergikan anggota tubuhmu sendiri? []

Penulis adalah pengajar Pasca Sarjana Universitas Pertahanan Indonesia.


Editor. Juaz

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Bisnis Bank Sampah Potensi Nilainya Capai Rp18 Miliar, Tertarik?

Rabu, 25 April 2018 11:49 WIB

Pembangunan bank sampah, menjadi momentum untuk membina kesadaran kolektif masyarakat


Preview : Menjegal Langkah Madrid Mencatat Sejarah

Rabu, 25 April 2018 11:45 WIB

Bayern tidak akan diperkuat pemain seperti Neuer, Vidal, serta Kingsley Coman.


KPK Periksa Ijeck, Pengamat: Jangan Sampai Sumut Dipimpin Koruptor

Rabu, 25 April 2018 11:44 WIB

Langkah KPK merupakan upaya untuk melindungi masyarakat dari pemimpin yang korup.


Menteri Jonan Sindir Pejabat Kementerian BUMN Spesialis 'Ganti Direksi'

Rabu, 25 April 2018 11:42 WIB

Menteri Jonan sindir Fajar Harry Sampurno lantaran dalam setahun Pertamina berkali-kali berganti direksi.


Bursa Efek Buka Suspensi Steady Safe

Rabu, 25 April 2018 11:36 WIB

Saham SAFE disuspensi sejak sesi I perdagangan efek tanggal 31 Juli 2017 yang lalu.


Bamsoet Dorong ARDIN Berperan Gerakkan Ekonomi Rakyat

Rabu, 25 April 2018 11:34 WIB

Kehadiran ARDIN Indonesia di berbagai daerah memberikan kesempatan bagi siapapun untuk melebarkan usahanya


Tarik Wisatawan, Saudi Bangun Theme Park

Rabu, 25 April 2018 11:29 WIB

Saudi berharap taman yang dikenal dengan Qiddiya itu akan menjadi pusat hiburan, olahraga, dan budaya.


Duh, Notifikasi Google Kalender Tak Berfungsi

Rabu, 25 April 2018 11:25 WIB

Hal ini diungkapkan oleh Android Police Fitur.


Rayakan Hari Otda, Pjs Walikota Bekasi: Pemda Jangan Takut Berinovasi

Rabu, 25 April 2018 11:24 WIB

Transparansi mengambil kebijakan agar bisa dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Pemda Jangan takut berinovasi karena dilindungi hukum.


Ini Alasan Febby Rastanty Suka 'The Avengers: Infinity War'

Rabu, 25 April 2018 11:21 WIB

Febby menyiapkan waktu khusus tuk menyaksikan gala premiere The Avengers: Infinity War.


Diduga Sekap Penumpang, Pengemudi Taksi Online Jadi Buronan Polisi

Rabu, 25 April 2018 11:17 WIB

Salah satu keluarga dihubungi pelaku meminta uang tebusan.


Menipisnya Stok Pemain Senior di Timnas Softball Indonesia

Rabu, 25 April 2018 11:11 WIB

Salah satu atlet softball paling senior yang kini berada di skuat Timnas Softball Indonesia memutuskan untuk pensiun dalam waktu dekat.


Gandeng Hanung Bramantyo, Salman Aristo Garap Film Adaptasi Novel 'Bumi Manusia'

Rabu, 25 April 2018 11:10 WIB

Sineas senior Salman Aristo terus berkarya hingga saat ini.


Diet Vegeterian Sama Efektifnya dengan Diet Mediterania

Rabu, 25 April 2018 11:05 WIB

Diet Mediterania dianggap sebagai salah satu diet paling sehat, tapi diet vegetarian juga kok!


Duh! Gatot Brajamusti Hipnotis dan Cium Korbannya

Rabu, 25 April 2018 10:59 WIB

Alkisah, Gatot pernah menjanjikan CTP untuk menjadi backing vokal di bandnya.