Kaleidoskop 2017

Macan Tak Bertaring Bernama UMKM

akurat logo
Rizal Mahmuddhin
Senin, 01 Januari 2018 12:30 WIB
Share
 
Macan Tak Bertaring Bernama UMKM
Kerajinan logam khas Boyolali karya Gunanto yang mengikuti pameran Kriyanusa 2017 di JCC Jakarta, Minggu (1/10). AKURAT.CO/Rizal Mahmuddhin

AKURAT.CO, Bak macan tidur, eksistensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) seakan kian menggeliat. Apa pasal? Memiliki jumlah yang besar dan potensi luar biasa menjanjikan dari waktu ke waktu, tak pelak jika UMKM digadang-gadang bakal mampu mendongkrak perekonomian nasional yang saat ini oleh beberapa pihak dikatakan tengah mengalami lemah syahwat.

Meminjam data Kementerian Koperasi dan UKM, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berkisar diantara 57% hingga 61%. Secara rinci, angka tersebut diakumulasi dari usaha mikro sebesar 30,3%, usaha kecil 12,8% dan usaha menengah 14,5%.

Tak sendiri, sebab data Kemenkop dan UKM sebelas dua belas dengan data milik Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan, kontribusi UMKM terhadap perekonomian mencapai 61.41%. Di mana jumlah UMKM saat ini tak kurang dari 60 juta unit banyaknya.

Terkait serapan lapangan pekerjaan, dari jumlah penduduk usia produktif kerja di Indonesia yang mencapai 110 juta orang, sekitar 107 juta orang masuk dalam struktur UMKM. Ini berarti porsi orang yang bekerja di lini UMKM mencapai sekitar 97,3%. Atau dengan kata lain, hanya 2,7% pekerja dengan jumlah sekitar 3 juta orang yang bekerja pada perusahaan-perusahaan atau korporasi besar.

Melihat angka tersebut, lumrah jika akhirnya Pemerintahan Jokowi-JK menambah dana bergulir untuk UMKM sepanjang 2017 hingga mencapai Rp1,5 triliun, dari yang semula cuma dianggarkan sebesar Rp 917,2 miliar melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).

Presiden Jokowi menilai, tak hanya punya potensi besar, UMKM juga terbukti memiliki daya tahan yang kuat karena tak tumbang meski digempur krisis ekonomi pada 1997-1998 dan krisis global pada medio 2008. Jokowi menyatakan, UMKM perlu digenjot agar mampu menopang perekonomian negara.

‎"Pemerintah sangat sadar betul betapa petingnya pengembangan usaha mikro usaha kecil dan usaha menengah‎," ujar Jokowi di Istana Merdeka, beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, tak semua orang sepakat memandang kontribusi positif UMKM. Selain itu, sejumlah pihak juga berpendapat, upaya pemerintah tampaknya masih dirasa belum cukup mengigit. Dikatakan pengamat ekonomi Raden Pardede, sepanjang 2017 justru ketimpangan terjadi antara bisnis besar dan bisnis kecil atau UMKM.

Dirinya menyebutkan, meski perusahaan besar yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari UMKM, namun nilai tambahnya mampu mencapai 89%. Sementara UMKM sendiri macam macan ompong karena nilai tambahnya hanya bisa menyentuh di angka 5%.

"Itu adalah ketimpangan," kata Raden dalam acara seminar nasional bertajuk Indonesia Menuju Ekonomi Berkeadilan di Museum Kebangkitan Nasional, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, ketimpangan yang terjadi bisa dilihat dari sedikitnya usaha yang mendominasi pasar, mendapatkan akses keuangan yang lancar, dan didukung teknologi yang memadai. Sedangkan sebagian besar UMKM tak punya akses tersebut.

"Usaha besar menerima 80 persen kredit," ujar dia.

Singkat kata, pelaku UMKM tidak memiliki dana untuk mengembangkan usaha. Terperangkap dalam kondisi stagnasi, kekuatan finansial yang mereka miliki hanya cukup untuk mengisi perut dan membiayai kehidupan sehari-hari.

Kredit dari bank sebenarnya bisa membantu pelaku UMKM melepaskan diri dari jerat kemiskinan. Oleh sebab itu, Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 17/12/PBI/2015 telah mengeluarkan ketentuan yang mewajibkan kepada perbankan untuk mengalokasikan kredit/pembiayaan kepada UMKM mulai tahun 2015 sebesar 5%, tahun 2016 sebesar 10%, tahun 2017 sebesar 15% dan pada akhir tahun 2018 sebesar 20%.

Namun apa mau dikata, regulasi tampaknya tak berteman karib dengan realisasi. Masih ada sejumlah bank yang enggan masuk ke sektor mikro karena dianggap terlalu berisiko. Selain itu, pelaku UMKM secara umum juga punya kelemahan untuk mengakses pembiayaan tersebut. Terdapatnya jurang yang dalam untuk akses pendanaan itu membuat UMKM seakan tak bisa melepaskan diri dari simpul mati stagnasi.

Menjawab problematika itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencoba menggandeng bank-bank untuk gencar mempromosikan program Laku Pandai atau Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam rangka keuangan yang inklusif.

Program tersebut digagas dengan tujuan menyediakan layanan perbankan atau keuangan melalui kerja sama dengan pihak lain sebagai agen dari bank, dan didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi.

Diharapkan dengan strategi ini, uluran tangan perbankan bisa menjangkau pelaku UMKM di seantero negeri.

Nyaris serupa, pemanfaatan teknologi juga bakal dilakukan Kemenkop dan UKM dalam menggelontorkan dana bergulir di tahun depan. Lembaga Pengelola Dana Bergulir- Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) mulai 2018 akan tampil dengan paradigma baru dalam pengelolaan dana bergulir.

"Jika sebelumnya LPDB terkesan eksklusif dan sulit diakses, maka mulai 2018 LPDB bersifat inklusif, artinya LPDB terbuka dalam menjalin kerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM, lembaga pemerintah lainnya, lembaga penjaminan, asosiasi, maupun perusahaan FinTech dalam membuka akses dan layanan sumber pembiayaan koperasi dan UMKM di seluruh Indonesia," tukas Dirut LPDB Braman Setyo. []


Editor. Juaz

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Preview : Menjegal Langkah Madrid Mencatat Sejarah

Rabu, 25 April 2018 11:45 WIB

Bayern tidak akan diperkuat pemain seperti Neuer, Vidal, serta Kingsley Coman.


KPK Periksa Ijeck, Pengamat: Jangan Sampai Sumut Dipimpin Koruptor

Rabu, 25 April 2018 11:44 WIB

Langkah KPK merupakan upaya untuk melindungi masyarakat dari pemimpin yang korup.


Menteri Jonan Sindir Pejabat Kementerian BUMN Spesialis 'Ganti Direksi'

Rabu, 25 April 2018 11:42 WIB

Menteri Jonan sindir Fajar Harry Sampurno lantaran dalam setahun Pertamina berkali-kali berganti direksi.


Bursa Efek Buka Suspensi Steady Safe

Rabu, 25 April 2018 11:36 WIB

Saham SAFE disuspensi sejak sesi I perdagangan efek tanggal 31 Juli 2017 yang lalu.


Bamsoet Dorong ARDIN Berperan Gerakkan Ekonomi Rakyat

Rabu, 25 April 2018 11:34 WIB

Kehadiran ARDIN Indonesia di berbagai daerah memberikan kesempatan bagi siapapun untuk melebarkan usahanya


Tarik Wisatawan, Saudi Bangun Theme Park

Rabu, 25 April 2018 11:29 WIB

Saudi berharap taman yang dikenal dengan Qiddiya itu akan menjadi pusat hiburan, olahraga, dan budaya.


Duh, Notifikasi Google Kalender Tak Berfungsi

Rabu, 25 April 2018 11:25 WIB

Hal ini diungkapkan oleh Android Police Fitur.


Rayakan Hari Otda, Pjs Walikota Bekasi: Pemda Jangan Takut Berinovasi

Rabu, 25 April 2018 11:24 WIB

Transparansi mengambil kebijakan agar bisa dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Pemda Jangan takut berinovasi karena dilindungi hukum.


Ini Alasan Febby Rastanty Suka 'The Avengers: Infinity War'

Rabu, 25 April 2018 11:21 WIB

Febby menyiapkan waktu khusus tuk menyaksikan gala premiere The Avengers: Infinity War.


Diduga Sekap Penumpang, Pengemudi Taksi Online Jadi Buronan Polisi

Rabu, 25 April 2018 11:17 WIB

Salah satu keluarga dihubungi pelaku meminta uang tebusan.


Menipisnya Stok Pemain Senior di Timnas Softball Indonesia

Rabu, 25 April 2018 11:11 WIB

Salah satu atlet softball paling senior yang kini berada di skuat Timnas Softball Indonesia memutuskan untuk pensiun dalam waktu dekat.


Gandeng Hanung Bramantyo, Salman Aristo Garap Film Adaptasi Novel 'Bumi Manusia'

Rabu, 25 April 2018 11:10 WIB

Sineas senior Salman Aristo terus berkarya hingga saat ini.


Diet Vegeterian Sama Efektifnya dengan Diet Mediterania

Rabu, 25 April 2018 11:05 WIB

Diet Mediterania dianggap sebagai salah satu diet paling sehat, tapi diet vegetarian juga kok!


Duh! Gatot Brajamusti Hipnotis dan Cium Korbannya

Rabu, 25 April 2018 10:59 WIB

Alkisah, Gatot pernah menjanjikan CTP untuk menjadi backing vokal di bandnya.


Diramal Amien Rais Bakal Jadi Penyelamat Bangsa, Anies Bilang Amin

Rabu, 25 April 2018 10:57 WIB

"Siapapun yang mendoakan, saya amini."