KKP Tebar Benih Ikan, Realisasikan Program Sistem Bioflok dan Minapadi di Sukabumi

akurat logo
Aji Nurmansyah
Senin, 11 September 2017 11:01 WIB
Share
 
KKP Tebar Benih Ikan, Realisasikan Program Sistem Bioflok dan Minapadi di Sukabumi
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto (tengah kiri), melakukan penebaran benih ikan minapadi di Kelompok Tani Subur Bumi Desa Cikurutug, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. . Foto: AKURAT.CO/Aji Nurmansyah

AKURAT.CO, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai merealisasikan proyek percontohan dan melakukan penebaran benih ikan di Sukabumi, Jawa Barat. Dalam rangka menjalankan program prioritas yaitu program Budi daya perikanan dengan sistem minapadi dan budidaya lele dengan sistem billing.

Kegiatan ini merupakan salah satu program prioritas dan andalan KKP dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan dunia. Turut hadir pula dalam acara tersebut Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di sela-sela acara penebaran benih ikan minapadi di Kelompok Tani Subur Bumi Desa Cikurutug, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, menyampaikan bahwa isu ketahanan pangan saat ini menjadi tantangan besar di setiap negara.

”Fenomena pertambahan jumlah penduduk yang kian cepat, sudah barang tentu akan memicu kebutuhan pangan bagi masyarakat. Dalam kontek pemenuhan kebutuhan pangan berkelanjutan, maka perlu ada upaya bagaimana mendorong produktivitas sumberdaya berbasis pangan dalam kerangka pengelolaan yang bertanggungjawab, dan berkelanjutan,” ungkap Slamet.

“Oleh sebab itu, KKP terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan produksi pangan dari sektor perikanan, salah satunya melalui peningkatan produktivitas lahan. Namun demikian, hal itu harus tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan usaha sebagaimana kebijakan yang sudah digariskan oleh Bu Susi (Menteri Keluatan dan Perikanan),” tambahnya.

Untuk menjawab hal tersebut, KKP terus melakukan inovasi teknologi yang efektif dan efisien dalam kegiatan budidaya, juga mampu diintegrasikan dengan kegiatan subsektor pangan lainnya atau diversifikasi, di antaranya melalui minapadi. Dengan begitu, diharapkan dalam satu lahan tidak hanya dikembangkan satu jenis komoditas saja tetapi multi-komoditas sehingga produktivitas lahan akan meningkat.

Sementara itu, Teten menyampaikan bahwa kehadirannya dalam acara ini merupakan bentuk dukungan Presiden terhadap program-program berbasiskan kepentingan masyarakat banyak, terlebih sangat strategis untuk ketahanan pangan nasional.

Teten menyampaikan apresiasinya kepada KKP atas pelaksanaan program prioritas budidaya minapadi. Menurutnya, ini merupakan kegiatan yang luar biasa, di mana kultur masyarakat Jawa Barat biasanya melakukan budidaya padi dan ikan secara terpisah. Dengan minapadi ini, padi dan ikan dapat dibudidayakan dalam satu lahan, sehingga akan memberikan manfaat ganda bagi petani.

“Petani akan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi serta efisien baik secara waktu maupun lahan,” ujar Teten.

Lebih lanjut Teten mengatakan bahwa Presiden berkali-kali menyampaikan pentingnya budidaya ikan. Sebelumnya, Presiden Jokowi sampat terkejut mendapatkan penjelasan dari Kementerian Luar Negeri Norwegia bahwa 60% sumber PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) di Norwegia berasal dari ikan Salmon. Berkaca dari Norwegia, Presiden yakin bahwa Indonesia pun mampu melakukan hal serupa karena memiliki potensi besar baik untuk budidaya laut, , maupun tawar.

Selain itu, Teten berharap bahwa dengan semakin efisiennya cara budidaya maka produksi dapat meningkat dan konsumsi masyarakat juga akan meningkat. Hal ini penting untuk memperbaiki gizi dan ekonomi masyarakat.

”Dengan meningkatnya jumlah dan kebiasaan makan ikan, gizi masyarakat akan semakin baik dan diharapkan daya saing masyarakat Indonesia di dunia internasional juga meningkat,” tegasnya.

Ke depan, Dia juga akan mengupayakan adanya kemitraan antara pesantren, pembenih ikan, pembudidaya ikan, petani, serta pengusaha besar, sehingga terbangun kerjasama ekonomi yang baik antar pelaku usaha perikanan.

Sebagaimana diketahui, budidaya minapadi memiliki berbagai keuntungan yaitu: Pertama, meningkatkan produksi padi dari 5-6 ton menjadi 8-10 ton/Ha. Penggunaan 20% lahan untuk budidaya ikan tidak akan mengurangi produktivitas padi karena kotoran ikan dapat digunakan sebagai pupuk yang mampu meningkatkan jumlah rumpun padi dan buliran padi; Kedua, tambahan pendapatan petani dari panen ikan. Dari udang galah misalnya, petani mampu mendapatkan tambahan pendapatan sebesar Rp50-60 juta/Ha, nila sebesar Rp15-17 juta/Ha, dan lele Rp10-20 juta/Ha. Ketiga, efisien dalam penggunaan pupuk, bibit padi, dan pakan ikan; Keempat, padi terhindar dari hama dan penyakit, tikus misalnya, tidak akan masuk karena adanya genangan air; dan Kelima, hasil pengujian juga menunjukkan bahwa padi hasil minapadi memiliki kandungan glukosa lebih rendah sehingga sangat baik untuk dikonsumsi penderita diabetes.

“Sebelumnya di daerah ini belum mengenal minapadi, diharapkan dengan percontohan ini masyarakat dapat mengetahui berbagai keuntungan minapadi dan dapat mengembangkannya di lahan sawah masing-masing,” harap Slamet.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan juga penyerahan bantuan percontohan minapadi seluas 50 Ha senilai Rp1,65 Miliar dan 5 paket budidaya lele sistem bioflok senilai Rp1 miliar kepada pembudidaya dan pondok pesantren di Kabupaten Sukabumi.  

Melalui bantuan tersebut diharapkan budidaya minapadi dapat terus berkembang. Saat ini, budidaya minapadi menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dengan terus bertambahnya daerah-daerah sentra minapadi. Sentra minapadi di antaranya Provinsi Sumatera Utara seluas 8.770 Ha, Sumatera Selatan seluas 14.575 Ha, Jawa Barat seluas 31.753 Ha, Jawa Tengah seluas 6.176 Ha, Jawa Timur seluas 25.654 Ha, Sulawesi Selatan seluas 12.962 Ha, dan Sulawesi Tenggara seluas 5.038 Ha. KKP juga terus bekerjasama dengan Kementerian Pertanian untuk mendorong pengembangan minapadi di berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai gambaran, saat ini Indonesia memiliki potensi lahan mina padi sebanyak 4,9 juta Ha, namun pemanfaatannya baru mencapai 128 ribu Ha atau hanya 2,6 %. Berdasarkan data ini, maka peluang pengembangan minapadi masih sangat terbuka. Jika potensi lahan minapadi dapat dioptimalkan maka akan didapatkan paling tidak produksi padi sebanyak 68 juta ton per tahun dan produksi ikan 9,8 juta ton per tahun. Angka ini tentunya akan mampu mendongkrak kebutuhan pangan dan gizi masyarakat secara nasional.

Indonesia juga tercatat sebagai pionir pengembangan minapadi di dunia dan kini telah menjadi rujukan bagi negara lain khususnya di Asia Pasifik. Sejak tahun 2014 FAO telah menginisiasi kerjasama dengan KKP dan Kementerian Pertanian melalui program FAO Regional Initiative “Sustainable Intensification of Aquaculture for Blue Growth on Asia-Pasific”.

Percontohan Budidaya Lele Sistem Bioflok Sebagai Ajang Belajar Ilmu Biologi

Selain pengembangan minapadi, Dirjen Perikanan Budidaya juga berkesempatan melakukan tebar perdana bantuan budidaya lele sistem bioflok di Pondok Pesantren Al Ghifari Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi. 

Slamet mengapresiasi atas keseriusan pesantren dalam melakukan budidaya lele bioflok. Dia juga optimis panen lele perdana bisa dilakukan dalam waktu 2 bulan mendatang. Selain itu, dengan ukuran tebar 7-8 cm diharapkan dapat mengurangi kematian. 

Diutarakan Slamet bahwa lele menjadi komoditas yang familiar dibudidayakan masyarakat, sehingga pengembangannya perlu didorong melalui teknologi bioflok karena mampu menekan FCR (konversi pakan) menjadi 0,8- 1 dari semula 1,6. Slamet mengharapkan pemeliharaan ini dapat dilakukan oleh santri dan dikelola koperasi. Selain itu, dia juga berharap agar pesantren mampu mengembangkan bantuan ini menjadi beberapa unit sehingga kebutuhan gizi protein santri dapat terpenuhi. Pesantren juga diharapkan dapat membuat pakan mandiri yang akan menghemat biaya produksi sehingga keuntungan akan meningkat. 

Slamet berharap, keberadaan percontohan lele bioflok di pesantren dapat menjadi sarana belajar para siswa/santri. Baik belajar ikan secara biologis, lingkungan dan kualitas airnya, maupun ekonomi. []


Editor. Juaz

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Produsen Minyak Kurangi Produksi Picu Harga Minyak Global Melonjak

Selasa, 26 September 2017 09:04 WIB

Jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang minyak AS turun empat rig menjadi total 744 rig pada minggu ini


BMKG: Belum Terpantau Sebaran Debu Vulkanik di Bandara Juanda

Selasa, 26 September 2017 09:00 WIB

BMKG Juanda meperkirakan sampai dengan saat ini belum terpantau sebaran debu vulkanik di sekitara bandara internasional Juanda Suarabaya.


Muslimat NU Dipastikan Solid Dukung Khofifah di Pilgub Jatim

Selasa, 26 September 2017 08:57 WIB

Kader Muslimah NU diyakini tidak akan berpaling dari Khofifah.


Apakah Maraknya OTT KPK karena Adanya Mahar Politik di Pilkada?

Selasa, 26 September 2017 08:46 WIB

Mendagri Tjahjo Kumolo menyakini saat ini tidak ada lagi parpol yang meminta mahar kepada calon Gubernu, Bupati atau Walikota. Anda Percaya?


Turki dan Irak Adakan Latihan Bersama Setelah Referendum Kurdistan

Selasa, 26 September 2017 08:44 WIB

Tentara Irak telah tiba di Turki pada Senin (25/9) tengah malam untuk bergabung dalam pelatihan militer.


Polres Sumenep Ringkus Satpam Bawa Sabu

Selasa, 26 September 2017 08:35 WIB

Kepolisian Resor Sumenep Jawa Timur, Menangkap oknum satuan pengamanan (Satpam) lantaran membawa natkotika jenis sabu -sabu.


Indeks Bursa Saham Spanyol Berakhir Melemah

Selasa, 26 September 2017 08:34 WIB

Indeks acuan IBEX-35 di Madrid turun 0,86 persen atau 88,5 poin menjadi 10.216,50 poin.


Pakar: Ujaran Kebencian di Medsos Tunjukkan Rendahnya Literasi Digital

Selasa, 26 September 2017 08:22 WIB

Koordinator Penelitian Jaringan Penggiat Literasi Digital (Japelidi) Semarang, Liliek memandang perlu gerakan literasi digital.


Ini Kamera Terbaik untuk Merekam Gambar dalam Gerak Lambat

Selasa, 26 September 2017 08:18 WIB

Kamera semakin tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup masyarakat modern.


Pergerakan Magma Gunung Agung Terus Meningkat

Selasa, 26 September 2017 08:16 WIB

Gunung Agung saat ini memasuki fase kritis. Peluang terjadi letusan cukup besar. Radius 9-12 KM dari kaki gunung Agung harus dikosongkan.


Emilia Clarke Selesai Syuting Film 'Han Solo'

Selasa, 26 September 2017 08:10 WIB

Sutradara film solo "Han Solo", Ron Howard, mengungkap bahwa Emilia Clarke telah menyelesaikan syuting dari spin off Star Wars tersebut.


Dicari, Mantra Penjinak Hantu Ideologis; Pelajaran dari Peristiwa Kanigoro

Selasa, 26 September 2017 08:10 WIB

Hantu komunisme hanya bisa hilang jika seluruh komponen bangsa berhasil melakukan rekonsiliasi dan berhenti saling mencaci dan menyalahkan.


Korut Ancam Tembak Pesawat Pembom AS, Pentagon: Silahkan Trump Tangani

Selasa, 26 September 2017 08:09 WIB

Perang kata-kata kedua pemimpin negara tersebut membuat dunai semakin khawatir akan terjadinya perang.


MA Amerika Beri Sinyal dapat Batalkan Kebijakan Larangan Muslim ke AS

Selasa, 26 September 2017 07:40 WIB

Mahkamah Agung Amerika serikat (AS) memberi isyarat bahwa pihaknya dapat menghentikan larangan kontroversial terkait pembatasan Muslim ke AS


Kota Malang Tambah Hotel Kelas Bintang Tiga

Selasa, 26 September 2017 07:22 WIB

Kota Malang tengah menambah satu lagi hotel kelas bintang tiga di kawasan strategis, yakni Whiz Prime Hotel di Jalan Basuki Rachmad.